oleh

Bertepatan Hari Bumi, Pemuda Sorsel Galang Petisi Tolak Perkebunan Kelapa Sawit

TEMINABUAN-Bertepatan dengan hari, Bumi Sedunia ( Earth Day) Kamis, 22 April 2021, puluhan rakyat dan aktivis organisasi mahasiswa dan pemuda di Kabupaten Sorong Selatan (Sorsel), Papua Barat mengelar aksi kampanye penggalangan penandatanganan petisi penolakan izin perkebunan kelapa sawit secara serampangan yang sementara ini izinnya lagi di godok oleh pemerintah Pusat.

Selain menggalang penandatanganan petisi penolakan ijin kelapa sawit yang direncanakan akan digarap di wilayah distrik Konda, aliansi pemuda dan masyarakat juga mendesak kepada pemerintah dan DPRD Sorsel untuk segera membuat Peraturan Daerah ( Perda) perlindungan hutan milik Pribumi dan Pengakuan hak masyarakat Adat di Sorsel.

Aksi kampanye perlindungan dan penyelamatan hutan yang berlansung secara terbuka di taman Trinati Teminabuan. Kegiatan yang di gagas oleh organisasi cipayung antara lain Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan sejumlah organisasi kepemudaan lainnya seperti Gerakan Pemuda ANSOR dan Ikatan Mahasiswa Sorong Selatan (IMASS) cukup mendapat perhatian dari warga di kota Teminabuan.
Kampanye perlindungan dan Penyelamatan hutan ini mengangkat tema pulihkan bumi kita ( Restore Uus Aerth). Serta sejumlah stiker yang bertuliskan jaga hutan di Sorsel, hutan Papua bukan tanah kosong, stop perampasan hutan, tanah dan hutan adalah titipan leluhur serta sejumlah tulisa stiker kanpanye penyelamatan lingkungan lainnya.

Baca juga:

Adrianus Kemeray, salah satu tokoh adat Distrik Konda dalam orasinya dengan tegas mengatakan menolak program pemerintah yang berencana akan membuka izin perkebunan kelapa sawit di wilayah adat Distrik Konda.” Kami dengan tegas menolak program perkebunan kelapa sawit di wilayah adat kami di Distrik Konda. Kami mohon kepada pemerintah daerah Sorong Selatan segera merekomendasikan pencabutan izin lokasi pembukaan lahan kelapa sawit dari wilayah adat kami Distrik Konda,” pintahnya.

Senada diutarakan Onesimus wetaku, tokoh adat asal distrik Kais Darat. Ia menguwatirkan jika izin perkebunan kelapa sawit terus di perluas di wilayah sorsel seperti yang direncanakan di wilayah adat Distrik Konda. Warga di distrik itu bakal mengalami nasib yang sama seperti yang dialami oleh warganya di distrik Kais Darat yang hutan adat mereka dibabat habis karena pembukaan Kelapa Sawit.”Kami hari ini minta dan mendesak pemerintah daerah Sorong Selatan mengeluarkan Perda perlindungan hutan dan tanah adat di Sorong Selatan. Sebeb hutan dan tanah adat kami sudah di rampas habis oleh perusahan perkebunan kelapa sawit. Hutan dan tanah adat kami merupakan titipan warisan dari leluhur kami yang perlu kami jaga dan lestarikan demi anak cucu kami,” ujar Onesimus wetaku.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed